Daniel Ersaya Wu
@rollxst
Followers
95
Following
12
Media
23
Statuses
658
Sidang skripsi? siapa takut?! Wish me luck. Mohon doa nya semua.
1
0
1
You got the package📦 delivered through a delivery order. 📍 Apartment Senayan Residence Unit B11 @yujinieve
0
0
1
️️ ️️ ️️ ️️ Ia menutup mata, mencoba menenangkan napas. Kelas tetap berjalan. Slide berganti. Waktu bergerak. Ia tidak tahu bahwa pagi itu akan menjadi awal dari banyak hal yang tak lagi bisa ia abaikan. Selesai.
0
0
0
️️ Saat dosen mulai berbicara, Daniel tidak membuka buku. Ia menunduk, meletakkan kepalanya di atas meja, lengan menjadi bantalan. Suara kelas mengalir di sekitarnya, pena digerakkan, halaman dibalik, kursi bergeser, semuanya terdengar jauh. ️️
1
0
0
️️ ️️ Daniel menarik napas panjang, lalu melangkah keluar. Perjalanan ke gedung perkuliahan terasa singkat. Ia duduk di bangku kelas seperti biasa. ️️
1
0
0
️️ ️️ Daniel menutup mata, membiarkan air jatuh lebih lama dari kebiasaan, seolah berharap sensasi ganjil di kakinya ikut luruh. Ia menggerakkan jari-jari kaki di bawah aliran air. Masih terasa. Ia mematikan shower, mengeringkan tubuh, lalu berganti pakaian kuliah.
1
0
0
️️ ️️ Ia membuka loker, menggantung jaket, lalu duduk sebentar di bangku panjang, menatap kosong ke lantai, memberi tubuhnya waktu untuk menyusul pikirannya. Ia mandi tanpa tergesa. Air dingin mengalir dari kepala ke bahu, membawa turun sisa keringat dan panas latihan.
1
0
0
️️ ️️ Daniel menuju ruang ganti dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Lorong stadion masih sepi, hanya suara sepatu yang bergesek dengan lantai dan gemericik air dari kamar mandi yang terbuka. ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ “Fokus pemulihan,” tambah pelatih. “Kondisi lo harus prima” Daniel meneguk air, diam. Teman-temannya satu per satu kembali ke latihan, sesekali menoleh memastikan ia baik-baik saja. ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ “Dua minggu lagi kita berangkat. Tingkat Nasional, Daniel. ” Kata nasional menggantung di udara, berat. Daniel mengangguk pelan. Ia duduk di pinggir lintasan, menunduk, menyeka keringat yang terasa lebih dingin dari biasanya. ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ Pelatih kini berdiri di depannya, tatapannya tajam namun penuh perhitungan. “Istirahat. Hari ini cukup.” Daniel hendak membantah, tetapi kata-kata itu mati di ujung lidah. Pelatih melanjutkan, suaranya lebih rendah. ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ Beberapa temannya sudah mendekat, satu mengangkat tangan memberi isyarat cukup, yang lain menepuk bahunya pelan. “Jangan dipaksa,” ujar salah satu dari mereka. “Kelihatan nggak beres lo.” ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ Di seperempat putaran terakhir, langkahnya mulai kacau. Ia memperlambat laju, lalu berhenti sepenuhnya, napasnya terpotong bukan karena lelah, melainkan karena kesal. “Daniel Ersaya Wu, berhenti!” Suara pelatih terdengar tegas dari pinggir lintasan. ️️ ️️
1
0
0
️️ ️️ ️️ ️️ Daniel memaksa ritme, mengencangkan ayunan lengan, berharap tubuhnya akan mengikuti seperti biasanya. Tidak. Setiap kali mendarat, ada jeda yang makin jelas. ️️ ️️
1
0
0
Awalnya hanya setengah putaran. Langkah pertama terasa biasa, namun di tikungan, sensasi ganjil itu datang lebih cepat. Kaki kirinya terasa berat, telapak kakinya seperti kehilangan timing.
1
0
0
️️ Ada dorongan kecil di dadanya, keras kepala yang sudah lama jadi bagian dari dirinya. Ia menoleh ke arah garis start, lalu kembali ke lintasan. “Satu putaran lagi,” pikirnya. “Biar yakin.” Ia berlari. ️️
1
0
0
️️ ️️ Ia mengikat ulang tali sepatu, menekan ujung kaki ke tanah, memastikan masih bisa merasakan pijakan. Masih bisa. Daniel bangkit, menghampiri pelatihnya dan berniat mengulangi putarannya. ️️
1
0
0
️️ ️️ “Kenapa Niel?” tanyanya. “Lambat.” Daniel menggeleng cepat. “Nggak kenapa-kenapa. Badan belum panas aja.” Daniel berjalan pelan di pinggir lintasan. Setiap langkah terasa sedikit berbeda dari biasanya. ️️
1
0
0
️️ ️️ Baru kali ini Ia tidak sepenuhnya percaya pada kakinya sendiri. Ia melintasi garis finis dan melambat, berhenti dengan tangan bertumpu di lutut. Mengatur napas. Pelatih mendekat.
1
0
0