Puisi untuk Kekasih
@puisikekasih
Followers
18K
Following
126
Media
122
Statuses
11K
Sketsa yang Tak Selesai Takdir adalah sebuah pensil tua, menggambarku di sebuah jalan yang digores gerimis; ke mana pun aku melangkah, bayangmu adalah rintik yang tak pernah habis. Menjadi sketsa yang basah, saat kata-kata tak lagi menemukan muaranya. Garis-garisnya gemetar,
0
1
1
Gema Hujan di Sebuah Peron Di stasiun yang rabun oleh kabut, hujan turun seperti huruf-huruf yang luput dibaca. Lampu merkuri menggigil, mencatat bayang-bayang yang hendak berangkat tapi ragu. Lalu peluit panjang itu, menggema dan purba — merobek senja seperti kain lapuk.
0
0
2
Di Ambang Januari Di ambang pergantian, waktu tak lagi melangkah sebagai angka; ia adalah guci yang retak di pelataran, tempat sisa cahaya bintang menyimpan kerlingmu. Aku membaca parasmu bukan sebagai cermin, melainkan sebagai naskah palimpses penuh kenangan yang sedang
0
0
7
Sayatan Tipis pada Permukaan Kaca Cahaya bulan, sayatan tipis pada permukaan kaca, dan kita memilih untuk tidak menyalakan apa pun selain sunyi. Di luar jendela, reranting sibuk menyusun biografi bayangannya sendiri di atas lantai, sementara kita hanya duduk membiarkan malam
0
0
4
Sebuah Ejaan Sunyi Gerimis ini, barangkali, cara langit mengeja namamu. Ada yang purba dalam rintiknya, menyebut namamu— sebuah kata yang tak lagi sekadar memadati baris-baris puisi, melainkan air mata yang luruh dan mengendap sebagai sunyi paling basah di kedalaman riwayatku.
0
1
3
Sketsa Sebuah Jendela Di dinding kamar ini, kita tak menggantung lukisan. Hanya bingkai kayu jendela; sebuah persegi yang setia mencatat keheningan pagi, dan tirai tipis yang gemetar oleh angin. Di sana, warna-warni adalah zikir yang meriah: merah, jingga, dan kuning yang
0
0
3
Kelak bahasa menjadi asing bagi luka, aku akan menghilang di semenanjung. Mencampur warna ombak dan lembayung, melukis senja yang tak butuh penafsiran.
0
0
4
Tatapanmu senja yang senyap dalam dada. Di sini, waktu menanggalkan angka. Kita diam berdekapan, meninggalkan percakapan pada samudera.
0
0
3
Langit yang luas itu, hanyalah hati yang tak ingin membenci. Maka jadilah engkau samudera: melarung harapanku ke tubir paling dalam, membebaskan aku dari renjana. Sebab penantian, hanyalah keberangkatan yang lain. Kita tak perlu bertemu lagi. Tidak di sini. Hanya pada jarak yang
0
0
5
Kupotong gerimis pagi, kusematkan pada rambutmu. Sepasang kupu-kupu—keindahan yang fana itu—singgah di telinga. Debar jantungku tertahan; hanya jam dinding yang gagap, mencoba mengingat waktu.
0
0
2
Mungkin riwayat ini hanyalah album yang menyimpan gema, dan rindu—foto-foto yang gemetar itu—masih tersenyum dalam kalbu. Kepada cinta, kutitipkan segala yang tersisa; seperti debu-debu cahaya, yang enggan tersapu waktu.
0
0
2
Barangkali bulanlah yang berbagi air mata pada embun di jendela, saat malam tuntas menggenapi kegelapan yang fana. Maka ulurkan kalbu, kekasih, biar rindu ini tak percuma; biarkan pisau mengupas kabut pagi.
0
0
0
Aku hanyalah engsel yang nyeri pada pintu, berderit saat angin berlalu, menjerit lirih memanggilmu. Dan di ambang itu; hanya sepotong bulan, mencoba lepas dari belenggu.
0
0
3
Biarkan kelopak luruh mencium batu, dan sayap kupu-kupu patah satu per satu. Biarkan rindu, kekasih, tetap menjadi pintu; meski waktu menghapus segala tentangmu.
0
0
1
Barangkali kita hanyalah kandil tua yang tekun menyalakan waktu, membiarkan mimpi-mimpi mengendap dalam rindu. Sedang cinta, kekasih, adalah serbuk cahaya yang rontok dari lampu; yang diam-diam menjadi jelaga di relung jiwaku.
0
0
3
Barangkali hanya napasku yang menyusup di sela rambutmu. Di jendela, tak akan kautemukan bayanganku. Aku hanyalah udara yang tak terlihat; yang diam-diam mengecup keningmu.
0
0
2
Hujan telah mengemas seluruh rintiknya. Dan kau, tinggal gema. Lihatlah lengkung pelupukku yang berat: seluruh kenangan telah mengendap. Di ceruk mataku, kaulah genangan yang menolak surut. Sementara kesunyian menyeduh dirinya sendiri di cangkir tembikar, tekun memintal percik
0
0
3
Pada lengkung rusukmu, ombak melipat buih terakhir. Sunyi menyeret segalanya ke samudra, yang niscaya. Bila kau sudi memberi isyarat, akan kurakit kembali serpih buritan yang terserak di antara gelombang. Lalu kularung sisa napas ke palung takdirmu, biar lebur menjadi arus dalam
0
0
2
Denting Purba Bukan lagi sayap, namun degup jantung yang melambungkan doa. Langit tak lagi sekadar bentang lazuardi, melainkan mimbar bagi mataku yang tak putus memandangmu. Pagi membuka lengan untuk sebuah munajat, menadah gigil embun di rekah bibirmu. Mentari merayap, bukan
0
0
2