* 白石, 𝓡𝒊𝒏. 🐻
@ptrichors
Followers
111
Following
38
Media
84
Statuses
2K
─── In which the 𝒔𝒑𝒓𝒊𝒏𝒈 petals bloom.
#Kumadai ; 200💎
Joined January 2023
covered in water. The air conditioner of the bus make her chill a little bit, but at the very least — she have a shelter. And a way to go home now. And a resolution that, no matter what the weather prediction says, if it's rainy season, she really have to bring an umbrella.
1
0
0
one that made her face look like it was floating. Rin sighed. How is she able to go home, now... And so, she tried to force herself to walk through the rain. It was not a particularly heavy rain, anyway — By the time she got into the nearest bus station, she was already
1
0
0
that settled on everything without asking. Her coat. Her hair. The back of her neck. She could wait it out, she suppose. She considered this as she standing at the building's entrance, watching the street. People passed with umbrellas. Red ones, black ones, a child with a clear
1
0
0
leaning empty by the entrance. I trusted a weather prediction, she thought. And it was wrong. She filed that away and went back to work. She left the office at around 6pm. The rain had softened but not stopped. It hung in the air more than it fell — a fine, grey-like mist
1
0
0
her files to finish printing. The sound came first. A low hiss against the office windows, then louder, insistent, the kind of rain that doesn't apologize for itself. She watched it from her desk for a moment. Then she looked at her umbrella stand at the mansion, in her mind,
1
0
0
Rin checked the weather app at 7:04 AM, the same as every morning. Clear skies. Low humidity. No precipitation expected. And so, she left her umbrella by the door. The rain started at 2:17 PM. She knew the exact time because she had just looked at her watch while waiting for
1
0
0
genre ini cukup.... Thrilling, ia bisa katakan. Oke, pikirnya. Ternyata genre zombie jauh lebih menarik daripada yang ia pikirkan. END — @KumaMission
0
0
0
pistol! Pelurunya terbatas — Kalau di awal, pakai kapak dulu saja! Tunggu, aku akan membantu! Ayo, satu menit lagi!" Suara Takao-san terdengar, dan beberapa detik kemudian, datang avatar karakter Takao-san dengan kapak di tangannya. Rin mengeluarkan nafasnya lega. Siapa sangka,
1
0
0
Perkataan tersebut tidak mempersiapkannya atas realita yang terjadi di lapangan, ketika mereka memainkan permainannya, beberapa menit kemudian. "Peluruku habis!" Rin berkata, panik mencoba lari dari gelombang zombie yang mengejarnya. "Aaa, sudah kubilang jangan asal memakai
1
0
0
"... Misi kita hanya untuk menembak-nembak zombienya saja kan?" Apa susahnya? Zombie hanya akan diam disana dan tak mencoba menghindar dan menembak balik, bukan? "Yup~" Balas Takao-san dengan ceria. "Tapi hati-hati. Zombienya banyak. Sangat banyak. Dan dari segala arah."
1
0
0
ia pakai. Rin membalasnya dengan sebuah gumaman. "Tapi ada ekonominya — Zombie akan menyerang dalam gelombang. Kalau kita selamat, kita akan mendapatkan uang dan dapat membeli senjata yang lebih canggih untuk membasmi zombienya," Takao-san kembali menjelaskan. Rin mengangguk.
1
0
0
Rin menyalakan komputer miliknya. Tidak butuh waktu lama untuknya membuka aplikasi sosial untuk dapat terhubung dengan Takao-san, dan bermain bersama. "Jadi intinya, kita hanya harus survive serangan zombie," Takao-san menjelaskan, suaranya terdengar semangat di headset yang
1
0
0
ini? Ia selalu bertanya-tanya. Tapi baiklah, untuk hari ini — demi Takao-san dari bidang Strategi yang selalu menemaninya makan siang — ia akan mencoba membuka pikirannya dan bermain game genre zombie fps ini. Siapa tahu, mungkin ia suka. Sudah siap dengan headset di kepala,
1
0
0
sebuah videogame dengan tema zombie, ekspektasinya sangat rendah. Apalagi zombie, salah satu sub-genre horror yang menurutnya tidak memiliki daya tarik sama sekali. Sungguh, mayat hidup yang bahkan tidak memiliki kapabilitas untuk berpikir? Bagaimana bisa orang menikmati genre
1
0
0
Horror bukanlah sebuah genre yang akan seorang Rin Shiraishi pilih untuk menghibur dirinya. Tidak, bukannya ia takut — Hanya saja, ia tidak menemukan daya tarik dari sebuah genre yang mengandalkan rasa 'kaget' sebagai tarikan. Maka dari itu, ketika ia diajak untuk bermain
1
0
0
"Selamat pagi..." Menguap, keluar kamar masih dengan piyama.
0
0
0