JUDITH SHANG.
@mahrigai
Followers
117
Following
392
Media
47
Statuses
2K
้พๆตทๆญ: ๐ป๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ ๐๐๐๐๐๐ .
no purity in these tides.
Joined October 2013
PRAM. I have a tremendous love for these narratives I wrote. (A thread for me to keep)
can fic writers brag about their personal favorite โdamn Iโm cool as hell, AI could neverโ sentences theyโve written? Like sentences that are uniquely weird/silly but also just WORK because the human brain is a magical place and words are a playground?
1
9
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Dan lagi-lagi, aku tak sanggup berkata apa-apa. Bukan aku tak peduli padanya, bukan aku mengiyakan semuanya. Namun, aku tahu, apa pun yang kukatakan malam ini, detik iniโฆ tidak akan cukup untuk membuatnya tetap tinggal. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
0
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Air matanya jatuh tanpa jeda, bagai semua yang ia pendam selama ini memilih keluar di saat yang sama. Musik masih terus berjalan di latar. Ironis. Sebab lagu yang dulu terasa hangat, kini hanya menjadi pengiring perpisahan. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ pernah memberi kami kesempatan untuk sekadar mencoba. Dan ayahnyaโฆ menggenggam semua itu erat. โAku minta maafโฆโ Suaranya pecah. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Tersedu, tersentak, membuat tubuh kecilnya ikut bergetar. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ ruang untuk rasa itu tumbuh dan bermekaran bak bunga-bunga di taman. Kamiโdua perempuan yang saling mencintaโberjalan di batas yang tak diizinkan. Batas yang ditentukan oleh norma, oleh suara orang-orang, oleh keyakinan yang tak ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Sekeras apa pun aku berusaha, pintu itu tak pernah terbuka. Seakan-akan memang sejak awalโฆ kami tidak ditakdirkan untuk sampai. Bukan sebab kurangnya rasa, bukan sebab menipisnya tangki cinta. Namun, sebab dunia tak pernah benar-benar memberi ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Sudah berapa banyak kata yang kususun untuk meyakinkan ayahnya? Bahwa aku bisa menjaganya. Bahwa aku tak akan menyakitinya. Bahwa aku.. bersungguh-sungguh. Kendati, semua itu selalu berakhir sama. Buntu. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Hubungan ini tak pernah berjalan seperti yang kuinginkan. Selalu ada sesuatu yang menahan, sesuatu yang membatasiโโdan itu bukan hal kecil. Restu. Sesuatu yang terdengar sederhana, namun nyatanya tak pernah mampu kugapai. Sudah berapa kali aku mencoba? ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Dan tanpa sadar, jemariku mengerat di kemudi. Buku-buku jariku memutih, uratnya menonjol, seolah-olah seluruh tenaga yang kupunya hanya bisa kugunakan untuk menahan diri agar tidak hancur di tempat. Aku tahu. Aku selalu tahu. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Aku tahu. Ia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dan akuโโaku tetap diam. Bukan sebab diriku tak ingin menjawabnya. Tetapi tiada kata yang cukup layak untuk keluar. Lidahku kelu. Dadaku sesak. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Kali ini, suaranya lebih kecil. Kedua tangannya naik, mengusap wajahnya sendiri yang tertunduk sejak bermenit lalu, berkali-kali. Bagai ingin menghapus sesuatu yang tak terlihat. Bagai ingin menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuknya. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Mobil melambat, lalu berhenti. Mesin masih menyala, tapi kepalaku sudah penuhโโoleh tanya yang tak menemukan jawab, oleh kemungkinan yang datang silih berganti, oleh harapan yang diam-diam mencoba bertahan meski tahu akan kalah. โAyah nggak setuju.โ ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Ada luka yang ia tekan sendiri agar tak tumpah berserakan. Dan akuโโaku masih sempat tersenyum. Tipis. Rapuh. Nyaris tak terasa. Padahal di dalam dadaku, sesuatu runtuh dengan bunyi yang begitu nyaring. Tanganku bergerak otomatis, menepi ke sisi jalan. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Bagai sesuatu yang sudah lama ia tahan, lalu akhirnya dipaksa keluarโdipaksa jatuh sekaligus. Ia menggigit bibir bawahnya setelahnya, seolah menahan sesuatu yang lebih dahsyat dari sekadar ujar. Ada getir yang terselip di tiap suku katanya. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Aku tahu nada itu. Tahu jeda itu. Ragu yang mengendap di ujung lidahnya terasa begitu jelas, seakan turut menyesakkan dadaku. โKitaโฆ nggak usah lanjut aja, ya?โ Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa aba. Tanpa pelan-pelan. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Senyum tipis kupaksakan tetap tinggal di wajah, sementara sorot mataku sempat menangkap wajahnya yang tersapu cahaya lampu jalanโโdatang dan pergi. โKitaโฆโ Ia menggantung kata itu. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ Dan kadang-kadang, ia mencuri pandang ke arahku. Cukup kilat. Cukup singkat. Seolah ia takut tertangkap. โKenapa?โ Akhirnya, aku bertanya. Suaraku terdengar lebih ringan daripada yang kurasakan. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ yang berbaris di pinggir jalan, batangnya diterangi lampu kota yang temaram, lalu lenyap begitu saja dari pandang. Sesekali, aku menangkap pantulan wajahnya di kacaโโsamar jua rapuh, bak porselen yang nyaris retak. ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0
๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ mengikuti irama, bahkan sesekali melafalkan lirik seakan lagu itu miliknya. Tapi, tidak malam ini. Ia duduk diam. Terlampau diam. Sepasang matanya lebih sering menatap keluar jendelaโโmengikuti bayang-bayang pepohonan ๏ธ๏ธ๏ธ ๏ธ๏ธ
1
0
0