Thaka
@gitarxis
Followers
188
Following
60
Media
168
Statuses
3K
2002. written by Leo. Guvalio Nirmaya Aerthaka. Oh Darling All Of The City Lights Jiwa Daneswara.
Sydney, New South Wales
Joined September 2024
HELP RT Sementara waktu, selagi tamago lagi kena mode read-only, seluruh kegiatan akan dialihkan ke shoutocs, ya. Kirim menfess via menfess page [ https://t.co/7UDZROXhPw]. Cara kirim? Bisa cek di sini :
minbat.co
Minbat X | X Autobase Service, Realtime Menfess, Up to 200mfs/day, and much more.
[RT] Kirim menfess ke @ShoutOCs tuh gampang, gak perlu login-login web, guys! Berikut tata caranya~ Klik link mfs page di bio @ShoutOCs > hubungkan dengan X > authorize app > ketik isi menfess + trigger (🩷/🤍) > kirim deh! Real time!
0
26
4
menjalin hubungan itu tentang komitmen bersama. jangan besar kepala dan seenaknya karna lu dicintai hebat oleh seseorang yang pemaaf serta selalu mau menerima kekurangan lu. sebesar apapun cintanya kalau dia ngerasa kehadiran dia gak dihargai, cepet atau lambat dia bakal pergi.
4
31
40
Akhirnya bisa ngedate
0
0
0
Leo. Saya lakban apa ya mulut Jiwa ini?
Jiwa menoleh lagi pada pria itu. Tatapannya menelusuri wajah lawan bicaranya sejenak, seperti ingin memastikan bahwa keputusan tadi memang bukan sekadar jawaban sungkan. “Lo beneran ga apa apa?” tanya Jiwa sekali lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih pelan. —— @gitarxis
1
0
0
Tangannya keluar dari saku, lalu ia sedikit mengangguk ke arah antrean di depan. “Tapi gue belum ambil makan.” @Lostinsight_22
1
0
0
Satu detik. Dua detik. Lalu akhirnya, Thaka menghembuskan napas kecil, hampir seperti menyerah pada situasi yang tiba-tiba ini. “…” “Ya udah.”
1
0
0
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi Thaka sedikit melunak. Sangat tipis—hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan. “…atau ini cara lo biar nggak kepikiran terus?” Tepat sasaran. Karena entah kenapa, dari semua kemungkinan, itu yang paling masuk akal buatnya.
1
0
0
“…lo selalu gini?” Keluar begitu saja. Nada datar, tapi ada hint heran di dalamnya. Matanya belum lepas dari pria yang ada dihadapannya. “Udah minta maaf, tapi masih balik lagi.”
1
0
0
Atau… dia sendiri juga nggak ngerti kenapa dia balik? Hening beberapa detik. Cukup lama sampai suasana di sekitar mereka terasa ikut menunggu. Thaka menggeser berat badannya sedikit, lalu menghela napas pendek.
1
0
0
Kenapa orang ini, yang jelas-jelas tadi canggung setengah mati, tiba-tiba balik lagi dan ngajak makan bareng? Matanya menatap pria itu sedikit lebih lama dari sebelumnya. Bukan tajam, bukan juga mengintimidasi. Lebih ke… menilai. Mengukur. Tulus atau cuma basa-basi?
1
0
0
“Gimana... kalau kita makan bareng aja?” Dan kali ini, Thaka benar-benar diam. Bukan karena bingung harus menjawab apa. Tapi karena otaknya butuh waktu satu detik lebih lama untuk mencerna—kenapa?
1
0
0
Pertanyaan itu jelas… tidak perlu dijawab. Tapi anehnya, ia tidak merasa terganggu. Justru ada sesuatu yang hampir terasa seperti—lucu. Tipis. Sangat tipis. “…iya,” jawabnya akhirnya, singkat. Lalu ajakan itu datang.
1
0
0
Alis Thaka terangkat tipis. Bukan karena tidak suka—lebih ke tidak menyangka. Ia tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan sebentar, mencoba menangkap arah dari semua ini. “Err— lagi nyari makan juga?” Sudut bibir Thaka nyaris bergerak. Serius?
1
0
0
Dan tepat saat ia hampir memutuskan untuk benar-benar mengabaikannya— “Oh, hey! Gw lagi” Thaka sedikit menoleh. Dan di situlah, untuk kedua kalinya hari itu, ritmenya berantakan. Pria itu berdiri lagi di hadapannya.
1
0
0
Biasanya hal seperti itu tidak akan membekas. Tabrakan kecil, minta maaf, selesai. Tapi yang ini entah kenapa ada sisa yang tertinggal. Bukan kesal. Bukan juga marah. Lebih ke ganjil. Seperti ada sesuatu yang belum benar-benar ditutup.
1
0
0