LAKSATA BRAMANTYO.
@JeritFana
Followers
25
Following
1
Media
7
Statuses
96
CARUT-MARUT, 2008. GILA, GILA, GILA! TAK LEBIH DARI PEMUAS HASRAT ALAM BAWAH.
Ialah kidung tanpa jeda. Darah waktu menitik di jemarinya, sementara cahaya berpendar muram, menyaksikan sepasang mata menimbang batas hidup dan fana.
Joined July 2015
️ ️ ️ ️ ️ Gemas, gemas, gemas. Buntalan kapas. ️ ️ ️ ️ ️
0
0
0
️ ️ ️ ️ ️ / Di sini kita tahu ada kejanggalan. ️ ️ ️ ️ ️
ㅤ ㅤ Ruel tidak melihat ke bawah. Tidak memperhatikan tanah di dekat bangku yang sedikit lebih tinggi dari sekitarnya, lebih gelap, dan belum sepenuhnya rata. Dan Laksa, dengan senyum yang nyaris sama, tetap duduk di sisi Ruel— menemani kencan mereka seperti biasa. ㅤ ㅤ
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ ㅤㅤ𝐋𝐀𝐊𝐒𝐀𝐓𝐀 𝐁𝐑𝐀𝐌𝐀𝐍𝐓𝐘𝐎 ╱ LAKSA. ㅤㅤㅤㅤ Jakarta, 5 Januari 2008 ㅤㅤㅤㅤㅤ176 cm ╱ 51 kg ╱ AB ㅤㅤㅤㅤㅤ Indonesia ╱ Pelajar ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Belum kawin ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Ternyata pupil 𝘬𝘶𝘤𝘪𝘯𝘨 bisa membesar lagi beberapa detik setelah kematian. Reaksi kimia terakhir, mungkin? ️ ️ ️ ️ ️
0
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Baru makan eskrim segelas kecil, langsung batuk. ️ ️ ️ ️ ️
0
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Sepatunya menyentuh lantai dengan bunyi pelan, meninggalkan jejak yang akan segera lenyap, seperti hal-hal lain yang ia simpan tanpa suara. Seperti bangkai kucing yang baru saja ia kubur tadi di taman. ️ ️ ️ ️ ️
0
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Tatapan itu tak berpaling. "Masuk. Ke kamarmu. Sekarang." Perintah itu jatuh tanpa celah. Laksata mengangguk samar, nyaris tak terlihat, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Ia hanya menatap balik sejenak, lalu memalingkan wajahnya tipis, seolah pertanyaan itu tak benar-benar membutuhkan jawaban. Bibirnya tak bergerak, napasnya tetap teratur, dan keheningan yang ia bawa terasa lebih tebal dari sebelumnya. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ "Bangkai apa lagi yang kamu kubur barusan?" Kalimat itu diucapkan datar, tanpa nada tinggi, namun menggantung seperti sesuatu yang sudah terlalu sering diulang. Laksata tidak menjawab. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Sir (itulah panggilannya) berdiri beberapa langkah darinya, tatapannya tajam, terlalu tenang untuk sekadar curiga. Mata itu menyapu Laksata dengan perlahan, berhenti sejenak pada sepatu yang masih membawa sisa tanah, lalu kembali naik tanpa tergesa. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Suara itu jatuh dingin dari belakangnya. Laksata diam di tempat. Bahunya berhenti bergerak, namun tubuhnya tetap tegak. Ia menoleh perlahan, tanpa tergesa. Tahu betul siapa pemilik suara tersebut. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Pintu samping panti berderit pelan saat ia membukanya. Cahaya redup dari dalam menyambutnya tipis, memperlihatkan lorong panjang yang sunyi. Baru saja ia melangkah masuk.. "Berhenti." ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Udara malam membawa sisa aroma yang samar, menempel halus pada napasnya, namun tak cukup untuk mengubah ritmenya. Ia berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang perlu disembunyikan. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ Setelah itu, ia berbalik, melangkah meninggalkan taman tanpa menoleh lagi. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara, menyusuri jalan setapak menuju bangunan yang menjulang dalam gelap. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0
️ ️ ️ ️ ️ nyaris penuh perhatian, seperti seseorang yang enggan meninggalkan bekas terlalu jelas. Tangannya berdebu tipis. Ia mengibaskannya sekali, dua kali, lalu menatap deretan gundukan itu tanpa perubahan di wajahnya; tak ada ragu, tak ada tanya. ️ ️ ️ ️ ️
1
0
0