Wàn Zhōu
@Angestelt
Followers
667
Following
81
Media
248
Statuses
7K
FICTION—𝙁𝙖𝙩𝙚.: I don’t feel what they feel—but I understand what they fear. And that is more powerful.
S-IC, SND , 1990 — MDNI-DD:DNE
Joined November 2012
ㅤㅤ 𝙁𝙖𝙩𝙚. Karakter Rōan akan digantikan sementara dengan Wàn Zhōu. ㅤㅤ
1
0
1
O-oh! I just turned around for one second… Why does this always happen on my watch?
0
0
1
// oh menarik sekali
ㅤㅤ 𝗖𝗛𝗢𝗢𝗦𝗘 𝗣𝗥𝗢𝗠𝗣𝗧 Not every love story ends in forever, but every feeling deserves to be written. A spin of ideas and storyline, made for this Valentine season. Link : https://t.co/4wbBQFauLt ㅤㅤ
0
0
0
Ternyata pekerjaan ini lebih melelahkan meskipun jam istirahatnya lebih banyak.
0
0
1
0
0
0
ㅤㅤ Ditulis dalam sudut pandang Wàn Zhōu (万舟) sebagai orang pertama ㅤㅤ ㅤㅤ
1
0
0
0
0
0
Melainkan sebagai pengurus panti. Tempat ini akhirnya punya lampu hangat, dibangun kembali dengan tujuan yang baru. Mereka yang disana akan memilih nasibnya. Loyalitas dan kehangatan berjalan bersama di tempat yang kembali mereka sebut dengan rumah.
1
0
0
Tapi Roan tidak pernah berhenti. Ia menyekolahkan kami. Mengajari kami membaca ulang dunia yang dulu menolak kami. Dan bertahun-tahun kemudian aku kembali ke bangunan yang sama. Bukan lagi sebagai anak yang menunggu dipilih.
1
0
0
Roan tidak pernah memaksa kami memanggilnya apa pun. Namun orang tuanya membencinya. Mereka menyebut kami sampah jalanan yang dipungutnya satu per satu.
1
0
0
"…dulu aku juga anak di tempat ini." Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tidak tahu harus percaya atau lari. Saat itu, kami tidak langsung percaya. Aku bahkan tidur dekat pintu selama tiga bulan pertama.
1
0
0
Salju turun semakin lebat. Pria itu melepaskan tanganku. "Kalau begitu… ikut denganku." Aku langsung menarik Arumi ke belakangku. Dia tersenyum tipis. "Aku Roan." Tangannya membuka sedikit kerah pakaian, memperlihatkan bekas nomor di bahu kanan. Tatto yang sama dengan kami.
1
0
0
Itu aneh. "Ah… kalian kakak adik?" tanya pria itu. "Bukan" jawab Arumi cepat. "Tapi Zhou yang mengurusku sejak tempat ini ditutup." Dia terdiam sebentar. "Masih ada anak lain di sekitar sini?" Arumi menggeleng pelan.
1
0
0
"…kau juga dari sini?" suaranya tenang. "Apa urusanmu!" Aku berusaha melepaskan diri, tapi genggamannya tak bergerak sedikit pun. "Kakak, jangan sakiti paman itu… dia baik." Suara Arumi menghentikan kami. Aku menoleh tajam. Arumi berdiri di belakangnya tanpa rasa takut.
1
0
0
"Lepaskan!" Aku meronta. "Harusnya kau malu. Orang dewasa sepertimu masih mengincar anak-anak?" Dia tidak marah juga tidak tersinggung. Dia hanya menatap nomor yang tercetak di pergelangan tanganku bagai sebuah tatto.
1
0
0
Aku mengangkatnya. Sebelum sempat menusuk, pria itu berbalik. Tangannya menangkap pergelanganku. Kuat ... Terlalu kuat untuk orang yang terlihat seperti pegawai kantoran.
1
0
0
Ia berjongkok di depan Arumi seolah berbicara pada anak biasa, bukan anak jalanan. Itu cukup membuatku tahu dia berbahaya. Aku meraih potongan kayu dari samping dinding. Ujungnya tajam. Cukup untuk membuat seseorang terluka dan membawa Arumi pergi.
1
0
0
Namun ... Aku tidak punya hak mengasihani siapa pun disaat nasibku tidak lebih baik dari dirinya, aku hanya bisa untuk bertahan. Lalu pria itu datang. Jas tebal, sepatu bersih, rambut rapi terlalu berbeda dari dunia kami.
1
0
0